Latest Entries »

Sikap dan Kepercayaan

Sikap adalah evaluasi dari seseorang terhadap suatu objek. Sedangkan kepercayaan adalah pengetahuan konsumen mengenai suatu objek, atribut, dan manfaatnya. Beberapa karakteristik sikap:

  • Sikap memiliki objek
  • Konsistensi sikap
  • Sikap positif, negatif, dan netral
  • Intensitas sikap
  • Resistensi sikap
  • Persistensi sikap
  • Keyakinan sikap
  • Sikap dan situasi

Fungsi Sikap dan Strategi Mengubah Sikap Konsumen

Terdapat empat fungsi dari sikap:

  • Fungsi utilitarian

Seseorang menyatakan sikapnya terhadap suatu objek atau produk karena ingin memperoleh manfaat dari produk tersebut atau menghindari risiko dari produk tersebut.

  • Fungsi mempertahankan ego

Melindungi citra seseorang dari gangguan yang muncul dari dalam dirinya sendiri atau dari faktor luar yang mungkin menjadi ancaman bagi dirinya.

  • Fungsi ekspresi nilai

Menyatakan nilai-nilai, gaya hidup, dan identitas sosial dari seseorang.

  • Fungsi pengetahuan

Ingin mengetahui banyak hal.

Strategi mengubah sikap konsumen:

  • Kombinasi beberapa fungsi
  • Mengasosiasikan produk dengan sebuah kelompok atau peristiwa
  • Memecahkan konflik dua sikap yang saling berlawanan
  • Mengubah evaluasi relatif terhadap atribut
  • Mengubah kepercayaan merek
  • Menambahkan sebuah atribut pada produk
  • Mengubah penilaian merek secara menyeluruh
  • Mengubah kepercayaan terhadap merek pesaing

Model Sikap

Model tiga komponen:

  • Komponen kognitif

Sikap menggambarkan pengetahuan dan persepsi terhadap suatu objek sikap.

  • Komponen afektif

Menggambarkan perasaan dan emosi seseorang terhadap suatu produk atau merek.

  • Komponen konatif

Menggambarkan kecenderungan dari seseorang untuk melakukan tindakan tertentu yang berkaitan dengan objek sikap.

Model Sikap Multiatribut Fishbein

Model Multiatribut Sikap dari Fishbein terdiri atas tiga model: the attitude-toward-object model, the attitude-toward-behavior-model, dan the theory-of-reasoned-action model. Model the attitude-toward-object model digunakan untuk mengukur sikap konsumen terhadap suatu produk atau berbagai merek produk. Ada tiga konsep utama pada model ini:

  • Atribut: karakteristik dari objek sikap.
  • Kepercayaan: kekuatan kepercayaan bahwa suatu produk memiliki atribut tertentu.
  • Evaluasi atribut: baik atau buruknya suatu atribut menggambarkan pentingnya suatu atribut bagi konsumen.

Model Sikap Angka Ideal

Model angka ideal ini memberikan informasi mengenai sikap konsumen terhadap merek suatu produk dan sekaligus bisa memberikan informasi mengenai merek ideal yang dirasakan konsumen. Konsep utama dalam model ini:

  • Ab: sikap keseluruhan konsumen terhadap suatu merek
  • Evaluasi atribut: evaluasi terhadap kepentingan suatu atribut
  • Ii: keinginan performansi ideal dari atribut yang dievaluasinya.
  • Komponen Xi: memberikan penilaian aktual suatu atribut produk/merek seperti apa yang dirasakan konsumen.

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

Kepribadian

Kepribadian berkaitan dengan adanya perbedaan karakteristik yang paling dalam pada diri manusia, perbedaan karakteristik tersebut menggambarkan ciri unik dari masing-masing individu. Beberapa karakteristik kepribadian:

  • Kepribadian menggambarkan perbedaan individu
  • Kepribadian menunjukkan konsistensi dan berlangsung lama
  • Kepribadian dapat berubah

Teori Kepribadian

  1. Teori kepribadian Freud

Sigmund Freud mengemukakan suatu teori psikoanalitis kepribadian. Menurut Freud, kepribadian manusia terdiri dari tiga unsur yang saling berinteraksi:

  • Id

Aspek biologis dalam diri manusia yang ada sejak lahir, yang mendorong munculnya kebutuhan fisiologis.

  • Ego

Ego merupakan unsur yang disadari dan dikontrol oleh manusia. Ego berfungsi menjadi penengah antara id dan superego.

  • Superego

Aspek psikologis pada diri manusia yang menggambarkan sifat manusia untuk tunduk dan patuh kepada norma-norma sosial, etika, dan nilai-nilai masyarakat.

  1. Teori kepribadian Neo-Freud

Beberapa pakar yang juga rekan Freud mengembangkan suatu teori kepribadian yang disebut sebagai teori sosial psikologi atau Neo-Freud. Teori tersebut berbeda dengan Freud dalam dua hal:

  • lingkungan sosial yang berpengaruh dalam pembentukan kepribadian manusia bukan insting manusia,
  • Motivasi berperilaku diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Model kepribadian manusia menurut Horney:

  • Compliant: kepribadian yang dicirikan adanya ketergantungan seseorang kepada orang lain.
  • Aggressive: kepribadian yang dicirikan adanya motivasi untuk memperoleh kekuasaan
  • Detached: kepribadian yang dicirikan selalu ingin bebas, mandiri, mengandalkan diri sendiri, dan ingin bebas dari berbagai kewajiban.
  1. Teori Ciri

Berbeda dengan dua teori terdahulu, teori ciri menggunakan pendekatan kuantitatif dalam mengukur kepribadian konsumen. Teori ini mengklasifikasikan manusia ke dalam karakteristik atau sifat atau cirinya yang paling menonjol.

Gaya Hidup

Gaya hidup didefinisikan sebagai pola dimana orang hidup dan menggunakan uang dan waktunya. Psikografik adalah suatu instrumen untuk mengukur gaya hidup, yang memberikan pengukuran kuantitatif dan bisa dipakai untuk menganalisis data yang sangat besar.

Seorang pakar bernama Arnold Mitchell dari The Stanford Research Institute International di California mengembangkan suatu konsep yang disebut sebagai The value and Lifestyles (VALS) System, yang mengklasifikasikan gaya hidup orang Amerika. Konsep VALS terdiri dari:

  • Actualizer: Konsumen yang sukses, aktif, memperhatikan dan mengayomi orang lain, memiliki kepercayaan dan harga diri yang tinggi, dan memiliki pendapatan dan sumber daya ekonomi yang tinggi.
  • Fulfilleds: Dewasa, bertanggung jawab, profesional, dan berpendidikan baik, dan memiliki pendapatan yang tinggi.
  • Believers: Pendapatan relatif kecil, konservatif, lebih menyukai produk Amerika dan merek ternama.
  • Achievers: Memiliki pendapatan tinggi dan berorientasi status.
  • Strivers: Memiliki pendapatan rendah dan berorientasi status.
  • Experiencers: Konsumen memiliki pendapatan tinggi dan berorientasi tindakan.
  • Makers: Konsumen memilik pendapatan rendah dan berorientasi tindakan.
  • Strugglers: Konsumen yang memiliki pendapatan yang paling rendah.

Kepribadian dan Perilaku Konsumen

  1. Kepribadian ciri inovatif konsumen

Menggambarkan tingkat penerimaan konsumen terhadap produk-produk atau jasa baru.

  1. Dogmatisme

Sebuah kepribadian ciri yang mengukur tingkat kekakuan seseorang dalam menerima segala sesuatu yang tidak dikenal atau menerima informasi yang bertentangan dengan kepercayaan yang dimiliki.

  1. Karakter sosial

Mengidentifikasi dan membagi individu ke dalam berbagai jenis sosial budaya yang berbeda.

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

Motivasi

Motivasi muncul karena adanya kebutuhan yang dirasakan oleh konsumen. Kebutuhan sendiri muncul karena konsumen merasakan ketidaknyamanan antara yang seharusnya dirasakan dan yang sesungguhnya dirasakan.

Kebutuhan

Kebutuhan yang dirasakan konsumen bisa dimunculkan oleh faktor diri konsumen sendiri dan dimunculkan oleh faktor luar konsumen. Kebutuhan yang datang dari dalam diri seseorang disebut sebagai kebutuhan fisiologis atau biologis. Kebutuhan sekunder atau kebutuhan yang diciptakan adalah kebutuhan yang muncul sebagai reaksi konsumen terhadap lingkungan dan budayanya. Kebutuhan yang dirasakan seringkali dibedakan berdasarkan kepada manfaat yang dan diharapkan dari pembelian dan penggunaan produk. Pertama adalah kebutuhan utilitarian, yang mendorong konsumen membeli produk karena manfaat fungsional dan karakteristik objektif dari produk tersebut. Yang kedua adalah kebutuhan ekspresive atau hedonik, yaitu kebutuhan yang bersifat psikologis.

Tujuan

Tujuan adalah suatu cara untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dibedakan ke dalam tujuan generik, yaitu kategori umum dari tujuan yang dipandang sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan. Kedua, tujuan produk khusus, yaitu produk atau jasa dengan merek tertentu yang dipilih oleh konsumen sebagai tujuannya.

Teori Kebutuhan

Dr. Abraham Maslow adalah seorang psikolog klinis yang memperkenalkan teori kebutuhan berjenjang yang dikenal dengan Teori Maslow, yang terdiri dari:

  • Kebutuhan psikologis

Kebutuhan psikologis yaitu kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan tubuh manusia untuk mempertahankan hidup.

  • Kebutuhan rasa aman dan keamanan

Kebutuhan rasa aman merupakan kebutuhan perlindungan bagi fisik manusia.

  • Kebutuhan sosial

Kebutuhan sosial berdasarkan kepada perlunya manusia berhubungan satu dengan yang lainnya.

  • Kebutuhan ego

Kebutuhan ego adalah kebutuhan untuk berprestasi sehingga derajat menjadi lebih tinggi dari lainnya.

  • Aktualisasi diri

Keinginan dari seorang individu untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang terbaik sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya.

Teori Motivasi McClelland

David McClelland mengembangkan suatu teori motivasi yang disebut sebagai McClelland’s Theory of Learned Needs. Teori ini menyatakan bahwa ada tiga kebutuhan dasar yang memotivasi seorang individu untuk berperilaku:

  • Kebutuhan sukses

Kebutuhan sukses adalah keinginan manusia untuk mencapai prestasi, reputasi, dan karier yang baik.

  • Kebutuhan afiliasi

Keinginan manusia untuk membina hubungan dengan sesamanya, mencari teman yang bisa menerimanya, dan ingin dimiliki oleh orang-orang sekelilingnya.

  • Kebutuhan kekuasaan

Keinginan seseorang untuk bisa mengontrol lingkungannya, termasuk mempengaruhi orang-orang di sekelilingnya.

Motivasi dan Strategi Pemasaran

Dua aplikasi penting dari teori motivasi:

  • Segmentasi

Produk atau jasa bisa diarahkan untuk target pasar berdasarkan tingkat kebutuhan konsumen.

  • Positioning

Citra produk yang ingin dilihat oleh konsumen.

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

Istilah konsumen sering diartikan sebagai dua jenis konsumen yaitu konsumen individu dan konsumen organisasi. Konsumen individu membeli barang dan jasa untuk digunakan sendiri. Jenis kedua adalah konsumen organisasi, yang membeli produk peralatan dan jasa-jasa lainnya untuk menjalankan seluruh kegiatan organisasinya.

Perilaku konsumen adalah semua kegiatan, tindakan, serta proses psikologis yang mendorong tindakan tersebut pada saat sebelum membeli, ketika membeli, menggunakan, menghabiskan produk dan jasa setelah melakukan hal-hal di atas atau kegiatan mengevaluasi.

Studi perilaku konsumen adalah suatu studi mengenai bagaimana seorang individu membuat keputusan untuk mengalokasikan sumber daya yang tersedia. Secara sederhana, studi perilaku konsumen meliputi beberapa hal berikut:

  • Apa yang dibeli konsumen?
  • Mengapa konsumen membelinya?
  • Kapan mereka membelinya?
  • Dimana membelinya?
  • Seberapa sering mereka membelinya?
  • Seberapa sering mereka menggunakannya?

Kepentingan mempelajari perilaku konsumen:

  • Pemasaran

Pemasar (produsen) yang mengerti perilaku konsumen akan mampu memperkirakan bagaimana kecenderungan konsumen untuk bereaksi terhadap informasi yang diterimanya, sehingga sebagai pemasar dapat menyusun strategi pemasaran yang sesuai.

  • Pendidikan dan perlindungan konsumen

Dengan informasi yang cukup, konsumen dapat mengidentifikasikan adanya penipuan atau kecurangan dalam transaksi dengan produsen atau toko.

  • Kebijakan masyarakat dan undang-undang perlindungan konsumen

Adanya peranan pemerintah dan DPR melalui kebijakan publik dan perundang-undangan harus melakukan intervensi untuk melindungi konsumen. Pemerintah berkewajiban untuk mempengaruhi pilihan konsumen melalui pelarangan terhadap praktik-praktik bisnis yang merugikan konsumen.

Perilaku konsumen memiliki akar utama dari ilmu ekonomi. George Katona dikenal sebagai bapak ekonomi psikologi. Dia menjadi pionir penelitian mengenai consumer’s confident yang dikenal dengan sebutan Survey of Consumer’s Confident, yaitu suatu penelitian mengenai persepsi konsumen terhadap perekonomian Amerika masa lalu, masa kini, dan masa datang. Robert Ferber adalah seorang ekonom yang mengembangkan teori perilaku konsumen dengan menerapkan prinsip-prinsip psikologi dan ekonomi. Dia bersama dengan Hugh G. Wales menulis buku “Motivation and Market Behavior”. Sedangkan John A. Howard bersama Jagdish N. Seth menulis buku yang berjudul “Theory of Buyer Behavior”. Mereke berdua mengembangkan sebuah model pengambilan keputusan konsumen yang dikenal sebagai “Howard and Sheth Model”.

Proses keputusan konsumen dipengaruhi oleh tiga faktor:

  • Kegiatan pemasaran yang dilakukan oleh pemasar dan lembaga lainnya
  • Faktor perbedaan individu konsumen
  • Faktor lingkungan konsumen

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

 

Pengetahuan konsumen adalah semua informasi yang dimiliki konsumen mengenai berbagai macam produk dan jasa, serta pengetahuan lainnya yang terkait dengan produk dan jasa tersebut dan informasi yang berhubungan dengan fungsinya sebagai konsumen.

Engel, Blackwell, dan Miniard membagi pengetahuan konsumen ke dalam tiga macam: pengetahuan produk, pengetahuan pembelian, dan pengetahuan pemakaian.

Pengetahuan Produk

Pengetahuan produk adalah kumpulan berbagai macam informasi mengenai produk. Pengetahuan ini meliputi kategori produk, merek, terminologi produk atau fitur produk, harga produk, dan kepercayaan mengenai produk. Peter dan Olson membagi tiga jenis pengetahuan produk: pengetahuan tentang karakteristik atau atribut produk, pengetahuan tentang manfaat produk, dan pengetahuan tentang kepuasan yang diberikan produk bagi konsumen.

Manfaat produk:

v  Manfaat fungsional: manfaat yang dirasakan konsumen secara fisiologis.

v  Manfaat psikososial: aspek psikologis dan aspek sosial yang dirasakan konsumen setelah mengonsumsi suatu produk.

v  Manfaat positif dan negatif

Persepsi risiko adalah konsekuensi yang tidak diinginkan dan konsumen ingin menghindari risiko tersebut, yang muncul akibat pembelian suatu produk. Dua hal penting untuk memahami persepsi risiko adalah adanya ketidakpastian dan konsekuensi. Persepsi risiko dibagi ke dalam tujuh macam:

  • Risiko fungsi: risiko karena produk tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan.
  • Risiko keuangan: kesulitan keungan yang dihadapi konsumen setelah dia membeli suatu produk atau jasa.
  • Risiko fisik: dampak negatif yang akan dirasakan konsumen karena menggunakan suatu produk.
  • Risiko psikologis: perasaan, emosi, atau ego yang akan dirasakan konsumen karena mengonsumsi, membeli atau menggunakan suatu produk.
  • Risiko sosial: persepsi konsumen mengenai pendapat terhadap dirinya dari orang-orang sekelilingnya karena membeli atau mengonsumsi suatu produk atau jasa.
  • Risiko waktu: waktu yang sia-sia yang akan dihabiskan konsumen karena mengonsumsi atau membeli suatu produk atau jasa.
  • Risiko hilangnya kesempatan: kehilangan kesempatan untuk melakukan hal lain karena konsumen menggunakan, membeli atau mengonsumsi suatu produk atau jasa.

Pengetahuan Pembelian

Pengetahuan pembelian terdiri atas pengetahuan tentang toko, lokasi produk di dalam toko tersebut, dan penempatan produk yang sebenarnya di dalam toko tersebut. Perilaku membeli memiliki urutan sebagai berikut:

  • Store contact: tindakan mencari outlet, pergi ke outlet, dan memasuki outlet.
  • Product contact: mencari lokasi produk, mengambil produk tersebut, dan membawanya ke kasir.
  • Transaction: konsumen akan membayar produk tersebut dengan tunai, kartu kredit, kartu debet, atau alat pembayaran lainnya.

Pengetahuan Pemakaian

Pengetahuan pemakaian produk sangat penting bagi konsumen. Suatu produk akan memberikan manfaat jika produk tersebut telah digunakan atau dikonsumsi oleh konsumen. Konsumen akan mendapatkan manfaat yang maksimal dan kepuasan yang tinggi apabila mengonsumsi produk dengan benar. Produsen sangat berkepentingan untuk memberitahu konsumen bagaimana cara menggunakan produknya dengan benar.

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

Arti Proses Belajar

Belajar merupakan suatu proses untuk memperoleh suatu pengetahuan dan pengalaman yang akan mengakibatkan perubahan sikap dan perilaku yang relatif permanen. Beberapa hal penting dari belajar:

v  Belajar adalah suatu proses yang berkelanjutan

v  Pengalaman memainkan peranan dalam proses belajar

v  Terminologi belajar memiliki makna yang luas.

Proses belajar dapat terjadi karena adanya empat unsur yang mendorong proses belajar tersebut:

v  Motivasi à daya dorong dalam diri konsumen

v  Isyarat à stimulus yang mengarahkan motivasi tersebut

v  Respon à reaksi konsumen terhadap isyarat

v  Pendorong/penguatan à sesuatu yang meningkatkan kecenderungan seorang konsumen untuk berperilaku pada masa datang karena adanya isyarat atau stimulus.

Proses Belajar Perilaku

Beberapa pakar mengklasifikasikan proses belajar ke dalam dua kategori: proses belajar kognitif, yaitu proses belajar yang dicirikan oleh adanya perubahan pengetahuan, yang menekankan kepada proses mental konsumen untuk mempelajari informasi dan proses belajar perilaku, yaitu proses belajar yang terjadi ketika konsumen bereaksi terhadap lingkungannya atau stimulus luar.

Schiffman dan Kanuk membagi proses belajar menjadi:

  1. Proses Belajar Classical Conditioning

Classical conditioning adalah suatu teori belajar yang mengutarakan bahwa makhluk hidup, baik manusia maupun binatang adalah makhluk pasif yang bisa diajarkan perilaku tertentu melalui pengulangan. Ada tiga konsep utama yang diturunkan dari proses belajar classical conditioning, yaitu pengulangan, generalisasi stimulus, dan diskriminasi stimulus.

  1. Proses Belajar Instrumental Conditioning (Operant Conditioning)

Operant conditioning adalah proses belajar yang terjadi pada diri konsumen akibat konsumen menerima imbalan positif atau negatif karena mengonsumsi produk sebelumnya.

  1. Proses Belajar Vicarious Learning (Observational atau Social Learning)

Observational learning adalah proses belajar yang dilakukan konsumen ketika ia mengamati tindakan dan perilaku orang lain serta konsekuensi dari perilaku tersebut.

Source:http://ujangsumarwan.blogspot.com/

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

 

Persepsi adalah pengolahan informasi dan persepsi konsumen terjadi bila salah satu pancaindera menerima input dalam bentuk stimulus. William McGuire menyatakan ada lima tahap pengolahan informasi:

  1. Pemaparan (eksposure)

Pemaparan adalah kegiatan yang dilakukan oleh para pemasar untuk menyampaikan stimulus kepada konsumen. Konsumen yang merasakan stimulus yang datang ke salah satu pancainderanya disebut sebagai sensasi, yang merupakan respon langsung dan cepat dari pancaindera terhadap stimulus yang datang.

Sensasi dipengaruhi oleh ambang absolut (the absolute threshold) dan ambang berbeda (differential thershold). Ambang absolut adalah perbedaan jumlah minimum intensitas atau energi stimulus yang diperlukan oleh seorang konsumen agar ia merasakan sensasi. Sedangkan, ambang berbeda adalah batas perbedaan terkecil yang dapat dirasakan antara dua stimulus yang mirip.

  1. Perhatian (attention)

Tahap kedua dari proses pengolahan informasi adalah perhatian. Perhatian merupakan kapasitas pengolahan yang dialokasikan konsumen terhadap stimulus yang masuk. Tidak semua stimulus yang dipaparkan dan diterima konsumen akan memperoleh perhatian dan berlanjut dengan pengolahan stimulus tersebut. Konsumen menyeleksi stimulus atau informasi mana yang akan diperhatikannya dan akan diproses lebih lanjut. Proses ini dikenal sebagai perceptual selection. Ada dua faktor utama yang mempengaruhi perceptual selection:

  • faktor pribadi adalah karakteristik konsumen yang muncul dari dalam diri konsumen. Motivasi, kebutuhan konsumen, pengalaman masa lalu, harapan konsumen termasuk ke dalam faktor pribadi.
  • faktor stimulus dapat dikontrol dan dimanupulasi oleh pemasar dan pengiklan, dengan tujuan utamanya untuk menarik perhatian konsumen. Beberapa hal yang masuk ke dalam faktor ini:
    • ukuran (size)

Semakin besar ukuran stimulus, maka semakin menarik perhatian.

  • warna (color)

Warna-warni dari stimulus akan menarik perhatian yang lebih besar dibandingkan dengan stimulus yang hitam putih.

  • intensitas

Stimulus yang lebih besar seringkali menimbulkan perhatian yang lebih besar.

  • kontras (contrast)

Stimulus yang ditampilkan sangat kontras dengan latar belakangnya seringkali menarik perhatian yang lebih baik.

  • posisi (position)

Suatu stimulus mungkin lebih diperhatikan oleh konsumen karena letaknya yang strategis di suatu lokasi.

  • petunjuk (directionality)

Mata konsumen seringkali tertuju kepada stimulus yang diarahkan oleh suatu petunjuk.

  • gerakan (movement)

Stimulus yang bergerak akan menarik perhatian konsumen dibandingkan yang diam.

  • kebauran (novelty)

Stimulus yang tidak biasa atau yang tidak diharapkan adalah stimulus yang menyimpang dari tingkat adaptasi seorang. Stimulus yang ditampilkan dengan teknik novelty biasanya menimbulkan penasaran dan keingintahuan.

  • isolasi (isolation)

Konsep isolasi sering disebut dengan nama white space, yaitu teknik meletakkan stimulus pada suatu ruang yang digunakan oleh stimulus itu hanya sedikit sekali, sedangkan sisa ruangan yang besar tidak terpakai.

  • stimulus yang disengaja (‘learned’ attention-inducing stimuli)

Beberapa stimulus seperti telepon, bel rumah adalah stimulus yang sengaja dipasang untuk menarik perhatian kita. Kita akan bereaksi cepat untuk mengangkat telepon berbunyi, dan membuka pintu ketika bel berbunyi.

  • pemberi pesan yang menarik (attractive spokeperson)

Para pemasar sering menggunakan para selebriti, tokoh, dan para eksekutif sebagai bintang iklan.

  • perubahan gambar yang cepat (scene changes)

Beberapa iklan TV menampilkan banyak gambar dalam waktu yang sangat singkat. Ini akan menimbulkan aktivitas otak secara tidak sengaja, dan selanjutnya akan menarik perhatian konsumen.

  1. Pemahaman (comprehension)

Pemahaman adalah usaha konsumen untuk mengartikan atau menginterpretasikan stimulus. Pada tahap ini, konsumen melakukan ‘perceptual organization’. Ada tiga prinsip dalam perceptual organization:

  • gambar dan latar belakang (figure and ground)

Gambar adalah objek atau stimulus yang ditempatkan dalam suatu latar belakang. Konsumen cenderung memisahkan mana objek yang harus diperhatikan dan mana latar belakangnya.

  • pengelompokan (grouping)

Orang biasanya mengelompokkan stimulus sehingga membentuk satu kesatuan arti. Tiga prinsip grouping adalah kedekatan (proximity), kesamaan (similiarity), kesinambungan (continuity).

  • closure

Konsumen akan berusaha memahami suatu objek dalam arti yang utuh walaupun ada bagian dari objek tersebut yang hilang atau tidak lengkap.

  1. Penerimaan (acceptance)

Setelah konsumen melihat stimulus, memperhatikan, dan memahami stimulus tersebut maka sampailah kepada suatu kesimpulan mengenai stimulus atau objek tersebut. Inilah yang disebut sebagai persepsi konsumen terhadap objek tersebut atau citra (images) produk. (Sumarwan, 2002)

  1. Retensi (retention)

Tahap kelima dari proses pengolahan informasi adalah retensi, yaitu proses memindahkan informasi ke memori jangka panjang (long-term memory). Memori mempengaruhi proses perhatian dengan mengarahkan system sensori kepada konsumen sehingga konsumen dapat berkonsentrasi secara selektif kepada stimulus tertentu. Memori terdiri atas atas tiga sistem penyimpanan:

  • memori sensori adalah tempat menyimpan informasi sementara
  • memori jangka pendek adalah tempat penyimpanan informasi untuk waktu yang terbatas dan memiliki kapasitas terbatas waktu kurang dari 30 detik
  • memori jangka panjang adalah tempat menyimpan informasi dalam jangka waktu yang lama dan memiliki kapasitas yang tidak terbatas yaitu:
    • Rehearsal : kegiatan mental konsumen untuk mengingat – ingat informasi yang diterimanya dan menghubungkannnya dengan informasi lainnya yang sudah tersimpan di memorinya. Tujuan untuk menahan memori STM dalam waktu cukup lama agar dilakukan decoding.
    • Decoding : proses menyeleksi sebuah kata atau gambar menyatakan suatu persepsi terhadap objek.

Mengingat Kembali

Mengingat kembali (retrieval) membantu konsumen untuk mengingat informasi dari memorinya melalui penayangan iklan secara rutin untuk mengingatkan konsumen.

Source:http://ujangsumarwan.blogspot.com/

Summarized by Reza Pratama (majoring in Family and Consumer Sciences, College of Human Ecology-Bogor Agricultural University, Bogor, Indonesia)

Based on Ujang Sumarwan. 2003. Perilaku Konsumen. Teori & Penerapannya dalam Pemasaran (Consumer Behaviour: Theory & Application in Marketing).

http://ujangsumarwan.blog.mb.ipb.ac.id/

 

MANFAAT KEARIFAN EKOLOGI TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Studi Etnoekologi di Kalangan Orang Biboki

(Yohanes Gabriel Amsikan)

Pendahuluan

Kearifan ekologi yang dibicarakan di sini meliputi bidang pertanian ladang berpindah, dalam prespektif etnoekologi, dilengkapi pendekatan ekologi budaya. Studi ini dilakukan di kalangan orang Biboki di Pulau Timor, Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai masyarakat yang komposisinya didominasi oleh orang-orang yang bermatapencaharian petani, maka core culture orang Biboki pun berkisar pada sub-budaya tani dengan poros kegiatannya pada pengolahan tanah pertanian sawah maupun ladang.

.Metode Penelitian

Penelitian lapangan ini dilakukan secara kualitatif dan etnografi. Oleh karena itu, cara yang digunakan untuk memperoleh data adalah pengamatan terlibat dan wawancara mendalam dengan pedoman wawancara. Dalam proses selanjutnya, data yang sudah terhimpun diklasifikasi dan dideskripsikan secara holistic-integratif, dianalisis, dan ditafsirkan secara kualitatif dari sudut pandang masyarakat yang diteliti.

Hasil dan Pembahasan

Salah satu kekhasan pertanian orang Biboki adalah perladangan berpindah. Kearifan ekologi dalam penelitian ini artinya sebagai tindakan masyarakat Biboki dalam upaya melangsungkan kehidupannya, yang selaras dengan lingkungan tanah kering yang mereka kenal. Orang Biboki sebagimana halnya suku bangsa lain di dunia memiliki pengetahuan tentang flora, fauna, dan bermacam benda yang ada di sekitar lingkungannya juga tentang ruang dan waktu.

Dalam kaitannya dengan tanaman, pengetahuan tentang jenis tanah yang cocok untuk usaha pertanian sangat diperlukan. Subur-tidaknya tanah dapat diamati dari berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Pemilihan lahan yang baik juga diperlukan pada saat orang Biboki mencari lahan untuk mendirikan rumah. Tanah dalam pemahaman orang Biboki dipersepsikan sebagai ibu yang senantiasa memelihara dan memberikan kesuburan.

Keyakinan akan Yang Tersembunyi, di masa lampau juga dipandang ada dalam diri seseorang Raja Biboki yakni Usi Koko atau Neno Biboki. Selain respek terhadap raja, orang Biboki juga masih memegang teguh kebenaran-kebenaran yang dikisahkan turun-temurun melalui mitos-mitos. Dari aspek-aspek ini, jelas kelihatan bahwa upacara-upacara itu telah memainkan fungsi sebagai sarana pencapaian ekuilibrium, keharmonisan, dan keselamatan rohani maupun jasmani. Selain itu, kearifan ekologi orang Biboki juga tercermin dalam perhatian seksama mereka terhadap sejumlah pantangan seperti sna-e, bunuk, dan nuni.

Sebagaimana sudah dikemukakan bahwa hutan sabana yang diturun-tangani masyarakat Biboki, justru berkembang menjadi semakin gundul, maka hal ini memberikan suatu gambaran baru kepada mereka bahwa suatu pola adaptasi dan perubahan strategi pertanian harus dilakukan.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah mengeluarkan program relokasi pemukiman penduduk dan sejumlah larangan. Dengan program relokasi pemukiman, penduduk yang sebelumnya tinggal terpisah di gunung-gunung dan bukit diharuskan pindah dan menempati kiri kanan jalan antardesa. Larangan membuka ladang dengan menebas hutan muncul sebagai respon pemerintah atas kenyataan bahwa jumlah lahan gundul terus bertambah. Larangan berburu juga dikeluarkan agar penduduk tidak serampangan menangkap hewan-hewan yang berkeliaran di hutan. Larangan juga dikeluarkan bagi upaya penggembalaan ternak secara bebas.

Kelihatan disini bahwa variable atau unsur yang dipakai untuk mengukur keharmonisan dan keselarasan, bahkan kelestarian lingkungan dalam pandangan orang Biboki adalah apabila semua komponen yang ada dalam satu lingkungan benar-benar berfungsi.

Simpulan

Studi etnoekologis mengenai sistem pertanian adalah perladangan untuk menguak kearifan ekologi orang Biboki memberikan sejumlah informasi, seperti berikut:

Pertama, kenyataan bahwa lingkungan alam seperti tanah, hutan, dan air perlu dijaga agar tetap memberikan hasil yang memadai setiap kali diolah. Kedua, bagi pemerintah, tanah, yang masih banyak belukar atau hutannya, berguna untuk menjaga kesuburan tanah yang menjadi tempat berlindung margasatwa, sedangkan orang Biboki beranggapan bahwa selama tanah masih menumbuhkan tanaman yang sehat hingga masa panen, selama tanah masih memberikan rejeki kepada mereka, mereka tetap yakin bahwa keadaan lingkungan mereka masih layak huni. Ketiga, orang Biboki memiliki pola perilaku yang berbeda karena mereka memilik pemahaman yang berbeda dengan pemerintah mengenai lingkungan. Dari temuan di atas, maka dapat dimengerti bagaimana himbauan-himbauan untuk melestarikan alam ‘gagal’ ditanggapi oleh orang Biboki.

Oleh: Rina Mardianan dan Soeryo Adiwibowo

Intensifikasi dan Penyeragaman Sistem Pertanian

Sejak tahun 1960an kebijakan pertanian yang dilancarkan pemerintah lebih mengarah pada intensifikasi sistem pertanian pangan. Revolusi Hijau adalah contoh kasus yang sering dibahas dan dikritik oleh banyak kalangan. Pada tahun 1984 pemerintah mengumumkan bahwa Indonesia telah berhasil melakukan swasembada beras. Berselang 10 tahun setelah keberhasilan tersebut, justru Indonesia kembali menjadi negara pengimpor beras. Pola Revolusi Hijau juga terjadi di bidang perikanan, yakni Revolusi Biru. Sebagaimana intensifikasi dan monokulturisme pada tanaman padi, sektor pertambakan udang juga mengalami hal yang sama. Ada dua hal penting berkaitan dengan intensifikasi dan monokultur budidaya ini. Pertama, penggunaan pestisida kimia secara terus menerus dalam jangka panjang dapat meningkatkan resistensi dan resurjensi hama. Kedua, penggunaaan satu varietas saja dalam satu sektor pertanian membuat sistem pertanian rentan karena bila terserang hama, maka seluruh ladang, tambak dan kebun akan mengalami gagal panen.

Sistem Pertanian Lokal Diabaikan

Seluruh perangkat kebijakan dan insentif ekonomi di bidang pertanian diarahkan pada pertanian insentif dan monokultur. Kebijakan dan praktek ini mengarah pada erosi plasma nutfah pertanian dan pengetahuan tradisional petani mengenai sistem pertanian yang berkelanjutan.

Konversi Lahan Subur

Konversi lahan merupakan masalah yang mendasar. Bank Dunia memperkirakan kerugian akibat konversi lahan pertanian beririgasi di Jawa mencapai US$ 1-2 miliar/tahun pada tahun 1980-1995. Ditengah kerugian tersebut, pemerintah justru mencetak sawah baru di luar Jawa dimana prasarana irigasi belum tersedia dengan baik dan areal tanah berada dalam tingkat kesuburan rendah. Moratorium konversi lahan produktif adalah pilihan kebijakan yang lebih baik.

Mengabaikan Sosial-Ekonomi Petani

Kenyataan menunjukkan bahwa pembangunan di bidang pertanian tidak mampu mengangkat kondisi sosial-ekonomi petani, terutama petani padi. Hal ini terjadi karena pembangunan pertanian gagal dikaitkan dengan pengembangan kesejahteraan petani melalui pembangunan desa yang rata dan adil. Demikian pula, petani hampir tidak pernah mendapatkan pelayanan informasi mengenai pasar, iklim, dan hasil-hasil penelitian yang bisa mereka terapkan, termasuk mengenai teknologi tepat guna yang bisa memberikan nilai tambah pada produk pertanian. Akibatnya, citra petani sebagai golongan yang miskin, buta huruf, kumuh, dan tidak berkembang muncul sebagai resultante dari kegagalan pembangunan dalam mengangkat tingkat sosial ekonomi masyarakat petani.

System of Rice Intensification (SRI)

Sejak tahun 1997, situasi politik di Indonesia mengalami perubahan secara drastis. Realita di lapangan menunjukkan, sangat sedikit teknologi pertanian yang dihasilkan lembaga-lembaga penelitian bisa sampai atau dilakukan oleh petani. Sebagai upaya untuk mendekatkan teknologi kepada petani, maka diperlukan pendekatan baru yang spesifik lokasi berdasarkan permasalahan yang dialami para petani. Metode SRI (System of Rice Intensification) merupakan sebuah teknologi berkelanjutan yang menguntungkan petani karena memberikan hasil produksi lebih tinggi. Teknik yang digunakan dalam SRI adalah dengan memperlebar jarak tanam sehingga penyerapan unsur hara oleh akar merata kepada seluruh tanaman. Tak kalah pentingnya adalah jumlah pemakaian bibit dengan metode SRI sebanyak 5 hingga 10 kali lipat lebih sedikit dibanding yang lazim digunakan petani. Pada tahun 2004, dimana secara internasional dan nasional dideklarasikan sebagai tahun beras, semakin banyak petani kecil di Indonesia yang mulai menerapkan SRI, sebagai cara yang cukup revolusioner dalam bercocok tanam padi.