MANFAAT KEARIFAN EKOLOGI TERHADAP PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

Studi Etnoekologi di Kalangan Orang Biboki

(Yohanes Gabriel Amsikan)

Pendahuluan

Kearifan ekologi yang dibicarakan di sini meliputi bidang pertanian ladang berpindah, dalam prespektif etnoekologi, dilengkapi pendekatan ekologi budaya. Studi ini dilakukan di kalangan orang Biboki di Pulau Timor, Desa Tautpah, Kecamatan Biboki Selatan, Kabupaten Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Sebagai masyarakat yang komposisinya didominasi oleh orang-orang yang bermatapencaharian petani, maka core culture orang Biboki pun berkisar pada sub-budaya tani dengan poros kegiatannya pada pengolahan tanah pertanian sawah maupun ladang.

.Metode Penelitian

Penelitian lapangan ini dilakukan secara kualitatif dan etnografi. Oleh karena itu, cara yang digunakan untuk memperoleh data adalah pengamatan terlibat dan wawancara mendalam dengan pedoman wawancara. Dalam proses selanjutnya, data yang sudah terhimpun diklasifikasi dan dideskripsikan secara holistic-integratif, dianalisis, dan ditafsirkan secara kualitatif dari sudut pandang masyarakat yang diteliti.

Hasil dan Pembahasan

Salah satu kekhasan pertanian orang Biboki adalah perladangan berpindah. Kearifan ekologi dalam penelitian ini artinya sebagai tindakan masyarakat Biboki dalam upaya melangsungkan kehidupannya, yang selaras dengan lingkungan tanah kering yang mereka kenal. Orang Biboki sebagimana halnya suku bangsa lain di dunia memiliki pengetahuan tentang flora, fauna, dan bermacam benda yang ada di sekitar lingkungannya juga tentang ruang dan waktu.

Dalam kaitannya dengan tanaman, pengetahuan tentang jenis tanah yang cocok untuk usaha pertanian sangat diperlukan. Subur-tidaknya tanah dapat diamati dari berbagai jenis tumbuhan yang tumbuh di atasnya. Pemilihan lahan yang baik juga diperlukan pada saat orang Biboki mencari lahan untuk mendirikan rumah. Tanah dalam pemahaman orang Biboki dipersepsikan sebagai ibu yang senantiasa memelihara dan memberikan kesuburan.

Keyakinan akan Yang Tersembunyi, di masa lampau juga dipandang ada dalam diri seseorang Raja Biboki yakni Usi Koko atau Neno Biboki. Selain respek terhadap raja, orang Biboki juga masih memegang teguh kebenaran-kebenaran yang dikisahkan turun-temurun melalui mitos-mitos. Dari aspek-aspek ini, jelas kelihatan bahwa upacara-upacara itu telah memainkan fungsi sebagai sarana pencapaian ekuilibrium, keharmonisan, dan keselamatan rohani maupun jasmani. Selain itu, kearifan ekologi orang Biboki juga tercermin dalam perhatian seksama mereka terhadap sejumlah pantangan seperti sna-e, bunuk, dan nuni.

Sebagaimana sudah dikemukakan bahwa hutan sabana yang diturun-tangani masyarakat Biboki, justru berkembang menjadi semakin gundul, maka hal ini memberikan suatu gambaran baru kepada mereka bahwa suatu pola adaptasi dan perubahan strategi pertanian harus dilakukan.

Beberapa tahun terakhir, pemerintah mengeluarkan program relokasi pemukiman penduduk dan sejumlah larangan. Dengan program relokasi pemukiman, penduduk yang sebelumnya tinggal terpisah di gunung-gunung dan bukit diharuskan pindah dan menempati kiri kanan jalan antardesa. Larangan membuka ladang dengan menebas hutan muncul sebagai respon pemerintah atas kenyataan bahwa jumlah lahan gundul terus bertambah. Larangan berburu juga dikeluarkan agar penduduk tidak serampangan menangkap hewan-hewan yang berkeliaran di hutan. Larangan juga dikeluarkan bagi upaya penggembalaan ternak secara bebas.

Kelihatan disini bahwa variable atau unsur yang dipakai untuk mengukur keharmonisan dan keselarasan, bahkan kelestarian lingkungan dalam pandangan orang Biboki adalah apabila semua komponen yang ada dalam satu lingkungan benar-benar berfungsi.

Simpulan

Studi etnoekologis mengenai sistem pertanian adalah perladangan untuk menguak kearifan ekologi orang Biboki memberikan sejumlah informasi, seperti berikut:

Pertama, kenyataan bahwa lingkungan alam seperti tanah, hutan, dan air perlu dijaga agar tetap memberikan hasil yang memadai setiap kali diolah. Kedua, bagi pemerintah, tanah, yang masih banyak belukar atau hutannya, berguna untuk menjaga kesuburan tanah yang menjadi tempat berlindung margasatwa, sedangkan orang Biboki beranggapan bahwa selama tanah masih menumbuhkan tanaman yang sehat hingga masa panen, selama tanah masih memberikan rejeki kepada mereka, mereka tetap yakin bahwa keadaan lingkungan mereka masih layak huni. Ketiga, orang Biboki memiliki pola perilaku yang berbeda karena mereka memilik pemahaman yang berbeda dengan pemerintah mengenai lingkungan. Dari temuan di atas, maka dapat dimengerti bagaimana himbauan-himbauan untuk melestarikan alam ‘gagal’ ditanggapi oleh orang Biboki.